Legenda Lampor di Perbatasan Blitar: Kisah Nyata Empat Remaja Pemburu Keranda Terbang yang Berakhir Celaka
Legenda Lampor Kisah Nyata Empat Remaja Pemburu Keranda Terbang yang Berakhir Celaka - Vior777 .

Jawa Timur – Awalnya, sebuah teror kolektif mencengkeram desa-desa di pedalaman Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan tahun 2021. Warga di perbatasan Blitar dan Malang saling berbisik tentang penampakan “Lampor“. Menurut mereka, Lampor adalah keranda mayat yang terbang di kegelapan. Sebuah alunan gamelan kematian yang lirih pun selalu mengiringinya.
Konon, Lampor adalah utusan gaib pembawa maut. Oleh karena itu, aturannya hanya satu. Jika terdengar suara aneh saat malam, warga harus menutup semua pintu. Mereka juga tidak boleh sekali-kali mengintip keluar. Namun, di desa Wringinsari, empat remaja laki-laki justru menantang aturan itu. Kisah mereka kini menjadi pelajaran tentang rasa penasaran yang berbuah petaka.
Peringatan Malam Jumat Kliwon
Semua bermula pada malam Jumat Kliwon, bulan Juni 2021. Suasana desa Wringinsari sudah mencekam sejak sore. Mbah Karto, sesepuh desa, telah memperingatkan semua warga. Katanya, malam itu adalah waktunya “sing momot” akan lewat. “Jangan keluar setelah Maghrib,” pesannya. “Mereka tidak suka jika ada yang melihat.”
Akan tetapi, Bayu dan ketiga temannya menganggapnya takhayul. Mereka bahkan berencana membuktikan bahwa cerita itu bohong. Selanjutnya, mereka menyiapkan ponsel untuk merekam. Mereka pun diam-diam keluar rumah sekitar pukul 19:00 WIB, tepat setelah langit gelap.
Perburuan di Bukit Candi Tua
Mereka memiliki satu tujuan: sebuah bukit kecil di ujung desa. Di sana, ada reruntuhan candi tua yang warga kenal angker. Dari sana, mereka berpikir bisa melihat seluruh desa dengan jelas. Awalnya, semua terasa biasa saja. Mereka saling bercanda untuk menutupi rasa takut. Namun, sekitar satu jam kemudian, suasana berubah drastis.
Suara jangkrik dan binatang malam tiba-tiba berhenti. Akibatnya, suasana menjadi hening mencekam. Udara yang tadinya hangat pun menjadi dingin menusuk tulang. Saat itulah, mereka mulai mendengar suara aneh dari kejauhan. Mereka mendengar alunan gamelan yang sangat janggal. Ritmenya tidak beraturan dan melengking. Selain itu, suaranya juga terdengar sangat menyedihkan.
Harga dari Sebuah Keberanian Bodoh
Jantung mereka berdebar sangat kencang. Dian sudah ingin pulang, tapi Bayu menahannya. Tiba-tiba, dari arah barat, mereka melihatnya. Sebuah keranda mayat melayang perlahan di antara pepohonan. Keempatnya langsung terpaku dalam kengerian mutlak.
Dalam kepanikan, Fajar tanpa sengaja menyalakan senter ponselnya. Cahaya itu langsung menyorot ke arah keranda. Seketika itu juga, gamelan berhenti. Keranda itu juga berhenti. Lalu, keranda itu perlahan berputar menghadap mereka. Sebuah suara rintihan yang keras dan menyayat hati keluar dari dalamnya.
Suara rintihan itu meneror dan mengejar mereka. Mereka lari tunggang langgang tanpa arah. Akhirnya, Bayu berhasil sampai ke rumah. Namun, ia langsung jatuh sakit selama dua minggu. Nasib teman-temannya jauh lebih buruk. Warga menemukan Adi keesokan paginya di dekat sungai. Ia hanya duduk linglung dengan tatapan kosong. Sementara itu, Dian dan keluarganya pindah dari desa seminggu kemudian. Dan Fajar, yang menyalakan senter, tidak pernah kembali ke rumah malam itu.

Source : Vior777
