Fenomena ‘Flexing’ Kurban di Media Sosial: Antara Niat Ibadah dan Pergeseran Budaya Pamer
VIOR777 - Berita Viral Terbaru - Flexing Kurban

Hari Raya Idul Adha tahun ini terasa berbeda. Gema takbir dan prosesi kurban kini mendapat panggung baru di dunia maya. Sebuah tren “flexing” kurban menjadi sorotan dan perdebatan hangat di kalangan netizen.
Panggung Baru Bernama Media Sosial
Linimasa media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (dulu Twitter) kini ramai dengan konten kurban. Berbeda dari sebelumnya yang sederhana, konten tahun ini menonjolkan superioritas. Banyak orang membuat video sinematik sapi jumbo dengan klaim harga fantastis. Bahkan, ada yang menampilkan detail perawatan “spa” untuk kambing sebelum disembelih. Semua konten ini mereka kemas dengan estetika modern yang menarik perhatian.
Pergeseran Niat: Ibadah vs Validasi Diri
Para pengamat sosial melihat ini sebagai persimpangan yang menarik. Tren ini berada di antara niat ibadah dan pergeseran budaya pamer. Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Budi Santoso, berpendapat bahwa fenomena ini mencerminkan masyarakat modern. Kini, banyak orang menjadikan media sosial sebagai panggung utama untuk mencari validasi diri.
“Ibadah kurban secara esensi adalah tentang keikhlasan dan kepedulian,” ujar Dr. Budi. “Namun, platform menuntut visibilitas, sehingga narasi ibadah itu bergeser. Bobot sapi, jenisnya, bahkan asal peternakannya, kini menjadi ‘poin’ status sosial yang bisa orang pamerkan untuk mendulang ‘engagement’.”
Dua Sisi Mata Uang: Syiar vs Riya’
Tren ini memunculkan dua kubu pendapat di kalangan netizen. Di satu sisi, banyak yang mengapresiasinya sebagai cara baru dalam syiar agama. Mereka menganggapnya sebagai motivasi agar orang lain mau berkurban dengan yang terbaik. “Kalau pamer tas branded boleh, kenapa pamer sapi limosin untuk ibadah tidak boleh? Ini kan syiar positif,” tulis seorang pengguna di platform X.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang melontarkan kritik tajam. Mereka khawatir esensi keikhlasan dari ibadah akan tergerus oleh sifat riya’ (pamer). Kompetisi yang tidak sehat juga menjadi kekhawatiran. “Jadi lupa, inti kurban itu berbagi dagingnya, bukan adu mahal-mahalan sapi di TikTok,” balas pengguna lainnya.
Pada akhirnya, fenomena ini membuka dialog penting di masyarakat. Kita jadi bertanya bagaimana sebuah ritual keagamaan beradaptasi saat memasuki ruang publik media sosial. Batasan antara dokumentasi, syiar, dan pamer kini menjadi semakin kabur dan meninggalkan sebuah pertanyaan besar: di manakah kita harus menarik garis?

