Cahaya di Kegelapan: Kisah Inspiratif Seniman Tunanetra & Lukisan Jiwa
Cahaya di Kegelapan: Kisah Inspiratif Seniman Tunanetra & Lukisan Jiwa
Melukis dengan Hati, Merasakan Dunia: Perjalanan Penuh Makna Adi Pratama
Jakarta, 18 Oktober 2025 – Di sebuah sudut kota Jakarta yang ramai, hiduplah Adi Pratama (35), seorang seniman tunanetra yang kisah hidupnya adalah sebuah kanvas inspirasi. Sejak kehilangan penglihatannya di usia 20 tahun akibat penyakit langka, dunia Adi seolah runtuh. Namun, ia menolak menyerah pada kegelapan. Justru dari sanalah, ia menemukan ‘cahaya’ baru, sebuah jalan untuk ‘melihat’ dunia dengan cara yang jauh lebih dalam: melalui lukisan sentuhan dan eksplorasi tekstur. Kisah Adi Pratama bukan sekadar tentang seni, melainkan tentang ketahanan jiwa dan arti sejati keindahan yang melampaui indra penglihatan.
Awalnya, depresi menjadi teman karib Adi. Impiannya untuk menjadi seorang arsitek seolah pupus. Namun, dorongan dari sang ibu dan sebuah kejadian tak terduga—ketika ia tanpa sengaja meraba sebuah patung tanah liat dan merasakan tekstur yang hidup—membuka matanya. Bukan mata fisik, melainkan mata batin. Ia mulai belajar melukis dengan cara unik. Adi memakai tekstur, bahan-bahan alami seperti pasir, biji-bijian, dan kain perca, sehingga ia menciptakan karya yang bisa diraba dan dirasakan. Setiap sentuhan pada kanvasnya adalah refleksi dari emosi, ingatan, dan imajinasinya tentang dunia.
Berikut adalah Adi Pratama sedang merasakan dan ‘melukis’ di atas kanvasnya, dikelilingi oleh karya-karyanya yang penuh tekstur.

Dari Kegelapan Menuju Galeri Internasional: Setiap Sentuhan Adalah Sebuah Cerita
Karya-karya Adi, yang ia juluki “Lukisan Jiwa”, mulai menarik perhatian. Bukan karena ia tunanetra, melainkan karena keunikan dan kedalaman emosi yang terpancar dari setiap tekstur. Pameran pertamanya di sebuah galeri kecil di Jakarta memukau banyak pengunjung. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga diizinkan untuk meraba dan merasakan cerita di balik setiap goresan. Kritikus seni memuji karyanya sebagai “jembatan indra” yang mengajak penikmat seni untuk mengalami seni dengan cara yang baru dan mendalam.
“Setiap lukisan saya adalah memori, mimpi, atau perasaan yang ingin saya bagikan,” ujar Adi dalam sebuah wawancara. “Ketika saya melukis hutan, saya meraba dahan pohon yang saya ingat, merasakan embun di dedaunan. Itu semua saya terjemahkan ke dalam pasir kasar atau benang halus di kanvas.”
Kesuksesan Adi Pratama tidak berhenti di situ. Beberapa karyanya bahkan telah dipamerkan di galeri internasional, membawa nama Indonesia dan inspirasinya ke panggung dunia. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencapai puncak kreativitas, melainkan bisa menjadi pintu gerbang menuju perspektif yang lebih kaya. Ini adalah bukti nyata bahwa talenta sejati tidak mengenal batas, dan semangat pantang menyerah adalah kunci untuk membuka setiap pintu yang tertutup.
Berikut adalah sebuah pameran seni Adi Pratama, dengan pengunjung yang merasakan karyanya melalui sentuhan.
Source : Bandung Wawancara Live
Wartawan : Vior777 APK
